Sore itu saat kita duduk santai di teras, kau mengingatkanku kembali pada kenangan 5 tahun lalu.
Kenangan yang tak akan pernah terlupa olehku. Betapa besar perjuanganmu untuk anak-anakmu.
Ya,kalau aku kenang rasanya terharu banget. Bagaimana tidak??
Disaat hujan deras disertai petir yang menggelegar begitu hebatnya engkau rela menungguku di pinggir jalan karena aku belum pulang dari sekolah.Waktu itu aku harus menyelesaikan les privatku untuk lomba LKS. Padahal aku tak memintamu menjemputku, aku pun tak sms taupun telepon tapi dengan hatimu sendiri engkau lakukan itu. Saat aku turun dari angkut,aku pun kaget ibuku sudah ada di pinggir jalan dengan payungnya.
Rasanya waktu itu seneng,,soalnya ibu pengertian. Tapi juga aku merasa kasihan ibu harus kedinginan karena hujan,dan waktu itu dia hanya pakai sepeda onthel. Aku pun tak tahu berapa lama dia menungguku di sana. Di derasnya hujan dan halilintar yang menyambar-nyambar dia memboncengku pulang ke rumah. Mungkin ra sa takut itu ada saat petir dan halilintar bersahut-sahutan, tapi kau musnahkan hanya karena anakmu belum pulang.
Pengorbanan yang tak kan pernah ternilai oleh apapun. Aku tak pernah menyesal memlikimu ibu.
THANK'S FOR ALL BUNDA,,,
q hanya ingin belajar menulis mengungkapkan isi hati,, maaf jika isinya kurang berkenan Thankss
Kamis, 29 Januari 2015
Rabu, 21 Januari 2015
Maafkan AKU
Aku masih merasa bersalah atas keputusan yang telah aku ambil. Entah mengapa perasaan ini terus menghantui. Rasanya aku telah meyia-nyiakan kesempatan, kalau dipikir memang iya. Hati pun menjadi sering tak tenang.
Ayah, maaf aku belum bisa menjadi yang ayah mau. Sebetulnya aku bingung, jika melihat Ibu ia merasa sangat lega dan begitu gembira karena aku tak jadi berangkat. Tetapi melihat Ayah,kekecewaan itu selalu saja ada.Kebingungan untuk ikut pendapat Ayah atau Ibu sebetulnya selalu menghampiri. Sejujurnya ketakutan untuk ikut tes lain waktu juga ada, apakah mungkin aku akan lolos kembali?
Penyesalan itu memang akan selalu hadir di belakang. Pikiranku sekarang pun menjadi lebih berat. .
Ketakutan sekarang yang paling besar ialah aku gagal menggapai masa depanku. Terkadang aku optimis berhasil, tapi terkadang keoptimisan itu lenyap ditelan pesimis.
Kehidupan ini akan terus berjalan, memang tidak mungkin aku hanya akan diam. Pesimis itu yang membuatku terus merasa bersalah.
Ayah, Ibu sekali lagi aku minta maaf belum dapat mewjudkan mimpi kalian. Doa dari kalian sangat aku harapkan setiap detik demi mewujudkan kembali. Aku akan mencoba bangkit kembali, karena aku tahu masih ada hari esok yang lebih baik. Tuhan akan selalu bersamaku,menjaga,melindungi. Aku percaya jika kita telah menjalankan kewajiban kepadaNya,pasti Tuhan akan memberikan apa yang kita mau. Kan ku coba menjalankan rutinitasku yang menenangkan jiwa itu. Karena dari situ doa2ku akan terjawab.
Jangan pernah menyerah untuk menghadapi semua,,Keep fighting
Ayah, maaf aku belum bisa menjadi yang ayah mau. Sebetulnya aku bingung, jika melihat Ibu ia merasa sangat lega dan begitu gembira karena aku tak jadi berangkat. Tetapi melihat Ayah,kekecewaan itu selalu saja ada.Kebingungan untuk ikut pendapat Ayah atau Ibu sebetulnya selalu menghampiri. Sejujurnya ketakutan untuk ikut tes lain waktu juga ada, apakah mungkin aku akan lolos kembali?
Penyesalan itu memang akan selalu hadir di belakang. Pikiranku sekarang pun menjadi lebih berat. .
Ketakutan sekarang yang paling besar ialah aku gagal menggapai masa depanku. Terkadang aku optimis berhasil, tapi terkadang keoptimisan itu lenyap ditelan pesimis.
Kehidupan ini akan terus berjalan, memang tidak mungkin aku hanya akan diam. Pesimis itu yang membuatku terus merasa bersalah.
Ayah, Ibu sekali lagi aku minta maaf belum dapat mewjudkan mimpi kalian. Doa dari kalian sangat aku harapkan setiap detik demi mewujudkan kembali. Aku akan mencoba bangkit kembali, karena aku tahu masih ada hari esok yang lebih baik. Tuhan akan selalu bersamaku,menjaga,melindungi. Aku percaya jika kita telah menjalankan kewajiban kepadaNya,pasti Tuhan akan memberikan apa yang kita mau. Kan ku coba menjalankan rutinitasku yang menenangkan jiwa itu. Karena dari situ doa2ku akan terjawab.
Jangan pernah menyerah untuk menghadapi semua,,Keep fighting
Selasa, 13 Januari 2015
NANO,,,NANO....
Ketika mmpi itu telah tiba di depan mata dan tinggal selangkah lagi untuk maju kemudian diputuskan mundur, rasanya memang sia-sia. Belum lagi kita dengar kanan kiri ada yang mendukung kita dan ada yang menyesalkan keputusan tersebut. Dan itu aku alami sendiri, saat semua orang berlomba2 untuk bisa keterima CPNS aku malah menyia-nyiakannya. Banyak yang bilang kesempatan gak akan datang 2 kali, cobalah dulu menjalani.
Ini bukan hal yang kecil asal coba, tapi ini pengabdian dari hati. Kalau memang hati belum siap lebih baik diberikan pada orang yang lebih mampu. Kita jangan pernah bermain dengan nasib orang karena pekerjaan ini menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Awalnya setelah pengumuman itu aku merasa gembira karena apa yang aku tuliskan di blog ini dan aku mimpikan selama ini telah menjadi nyata. Tetapi lewat pemikiran dan pertimbangan yang begitu panjang dan pergolakan batin yang hebat aku putuskan untuk mundur.
Aku belum siap untuk mengabdikan diriku ke tempat yang begitu jauh dan belum pernah aku ke sana bahkan tak ada saudara.Bisa dibilang aku akan hidup sebatang kara. Banyak faktor yang akhirnya membuatku mundur.
Saat aku utarakan niatku ini ada perasaan lega daroi dalam diri begitu juga saat aku liat raut wajah ibu. Tak ada lagi beban pikiran di jiwanya.
Dan aku berharap dengan keputusan ini akan ada penggantinya dari yang di Atas untukku nanti. Memang Tuhan tak akan memberikan kesempatan yang sama tapi akan memberikan kesempatan dalam bentuk lain.
Semua akan indah pada waktunya,,,,
Banyak jalan menuju Roma,,,,
Percayalah dan yakini pada keputusan yang diambil sebagai keputusan yang terbaik
Jadikan suara kanan kiri sebagai semangat,,
Tuhan tahu jalan yang terbaik,,Amienn
Ini bukan hal yang kecil asal coba, tapi ini pengabdian dari hati. Kalau memang hati belum siap lebih baik diberikan pada orang yang lebih mampu. Kita jangan pernah bermain dengan nasib orang karena pekerjaan ini menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Awalnya setelah pengumuman itu aku merasa gembira karena apa yang aku tuliskan di blog ini dan aku mimpikan selama ini telah menjadi nyata. Tetapi lewat pemikiran dan pertimbangan yang begitu panjang dan pergolakan batin yang hebat aku putuskan untuk mundur.
Aku belum siap untuk mengabdikan diriku ke tempat yang begitu jauh dan belum pernah aku ke sana bahkan tak ada saudara.Bisa dibilang aku akan hidup sebatang kara. Banyak faktor yang akhirnya membuatku mundur.
Saat aku utarakan niatku ini ada perasaan lega daroi dalam diri begitu juga saat aku liat raut wajah ibu. Tak ada lagi beban pikiran di jiwanya.
Dan aku berharap dengan keputusan ini akan ada penggantinya dari yang di Atas untukku nanti. Memang Tuhan tak akan memberikan kesempatan yang sama tapi akan memberikan kesempatan dalam bentuk lain.
Semua akan indah pada waktunya,,,,
Banyak jalan menuju Roma,,,,
Percayalah dan yakini pada keputusan yang diambil sebagai keputusan yang terbaik
Jadikan suara kanan kiri sebagai semangat,,
Tuhan tahu jalan yang terbaik,,Amienn
Langganan:
Komentar (Atom)