Minggu, 14 September 2014

Melancong Part 2 with SETITI

Hemsss,,hari ini 14 September,hari yang sang ku nanti. Ya aku dan Setiti dari dulu emang udah berencana ingin jalan-jalan ke Solo naik kereta. Maklum baru mau pertama ini aku dan dia naik kereta.
Kalau ini temanya melancong beneran,,soalnya kita belum tahu mau ke mana di Solo tak ada teman yang tahu. Asal jalan aja nantinya.
Kita janjian bertemu di stasiun wates jam 6, yang datang duluan harus antri beli tiket prameks dulu.
Dan kebetulan yang sampe duluan di stasiun tu aku,,ya udah deh aku beli tiket prameks duluan.
Menunggu Setiti menjadi saat2 yang mendebarkan,,,knapa gak datang2.
Jam setengah 7 baru deh tu anak keliatan hidungnya, tinggal menunggu kereta datang.
Jam 7 keretanya datang,,saat masuk ternyata di dalam sudah penuh dengan orang-orang. Terpaksa kami bersiri,untungnya hanya sampai stasiun tugu setelah itu kita duduk.
Hemss,,,rasanya seneng bgt bisa kesampaian naik kereta.
Jam 9 sampai di stasiun Purwosari Solo,sesampainya di sana kita berencana membeli tiket tapi belum boleh dibeli.
Alhasil kita melanjutkan perjalanan ke pasar Klewer dengan Batik Solo Trans. Emang kalau pergi2 dengan peta buta tu,,rasanya gimana gitu. Gak tahu arah,kebingungan itu yang kam rasakan. Nyampe pasar Klewer aja nyasar. Haduhhhh
Ditambah lagi dengan udara yang begitu panasnya. Habis dari Klewer nganterin Setiti ke tempat pacarnya di Solobaru. Di sini lagi kita kebingungan,,pokoknya pengalaman yang begitu terkenang lah.
Akhirnya di jemput juga ma pacarnya,,,nyampe kostnya langsung tepar.
Sempat sih kami berdebat untuk beli tiket pulang,,,dan diputuskan pembeliannya seperti waktu di stasiun wates. Yang dianter duluan yang beli,,,

APAKAH YANG TERJADI??

Kebetulan aku lagi yang duluan,,aku langsung antri di loket kereta lokal. Nyampe di depan loket,jawaban yang tidak mengenakan sekali.

MAAF MBK TIKET PRAMEKS KE WATESNYA HABIS,,,,,,

aduhhh harus gimana ini pulangnya,,ngebis lama??
rasanya tu campur aduk,,
Tinggal tiket bengawan 50 ribu nyampe wates. Setelah,,bicara sana-sini dengan Setiti dipastikan kita pulang dengan Bengawan yang lebih cepat.Kalau naik bus bisa sampe malem nyampe wates.
Dan akhirnya kita naik Bengawan jam 15.25 sampe wates jam 16.47.
Pengalaman yang mengasyikkan dan menyenangkan,,,tapi lain kali kalau ingin naik Prameks mending cari lebih awal kalau mendadak gak akan kebagian deh,,
Pecaya aku,,,

Besuk lagi destination kita kemana Setiti??

Kamis, 04 September 2014

NEVER SAY GOODBYE

Sahabat, 7 kata yang memiliki makna begitu besar bagiku. Dari sahabat aku menemukan cinta yang senantiasa melindungi, menyayangi, perhatian dan selalu membuat kangen aku. Sidney, dialah orang yang selama ini ada di dekatku. Kami saling mengenal semenjak sekolah dasar. Bunga-bunga cinta dan kasih sayang yang terus mekar, menyatukan kita di bangku SMP. Tetapi perbedaan kasta menyulitkan langkahku dan Sidney untuk bersama. Ayahnya menentang hubungan kami, karena aku anak orang miskin. Tetapi bagiku kaya dan miskin itu sama saja, kita sama-sama manusia. Ku akhiri tulisan curahan hati di buku diaryku dengan untaian doa. Suara Ibu memanggilku bersamaan dengan aku menutup rapi buku diaryku. Setiap pukul 16.00 aku harus membantu Ibu untuk mengantarkan baju laundry. Biasanya Sidney tak pernah absen menemaniku mengantarkan baju laundry, tetapi dia tadi berpamitan katanya mau basket bersama teman-temannya.
“Linshi pulangnya jangan malam-malam ya” nasihat Ibu.
“Ya Bu. Secepatnya Linshi pulang kok “.
Setelah bersalaman dengan Ibu, aku keluar dan mengayuh sepedaku dengan barang bawaan di keranjang sepeda. Aku bersepeda menyusuri jalanan kota yang mulai macet sore hari. Terkadang aku berpikiran mengapa aku hidup seperti ini, harus bekerja keras untuk mencapai semuanya. Sedangkan orang-orang yang kulihat mereka hidup serba enak. Naik mobil mewah, makan enak di restaurant, tak pernah merasakan teriknya matahari dan dinginnya hujan. Suara handphone berderinng menyadarkan lamunanku.
    “Hallo Sidney” kataku.
    “Iya baru dimana Lin?”
    “Ini antar baju. Ada apa ya tumben telepon”
    “Aku kangen kamu. Kita ketemu di taman ya”
    “Tapi Sid” kataku ragu-ragu
“Ibu? Nanti aku telepon dia untuk minta ijin. Kamu tenang aja pasti dapat ijin kok. Jangan lupa ya Linshiku sayang”
Sebetulnya bukan Ibu yang aku khawatirkan, tetapi Ayahmu. Kalau dia tahu pasti marah besar. Tetapi aku tak bisa berkata seperti itu, aku hanya dapat berbicara dalam hati. Aku bergegas mengayuh sepedaku menuju taman, tak ingin keduluan Sidney.
    Tetapi ternyata aku salah, dia telah menunggu di taman. Melihat senyumannya, semakin membuatku bersemangat. Aku langsung menghampiri dia dan duduk disampingnya.
    “Capek ya?” katanya sembari membelai rambutku. Aku hanya tersenyum, aku tak ingin membuatnya menganggapku lemah. Aku kuat dengan keadaanku, aku yakin Tuhan telah memiliki rencana yang indah nantinya karena Dialah sang pemilik scenario terindah.
    “Maaf ya aku tak bisa menemani kamu sore ini”
    “Gak pa pa. Kan baru sekali, biasanya juga menemani terus kok”. Sidney mampu membuat lelahku menghilang. Tiba-tiba dia terdiam, raut wajahnya terlihat serius. Ia memandangku dalam.
    “Sid, kamu kenapa? Melamun?” ia kaget mendengar kataku.
    “Lin…” dia terlihat bingung dan gundah ingin memulai berkata. Aku pandangi dia terus, tiba-tiba dia menarik tubuhku dan memeluk erat. Aku semakin bingung dengan sikapnya. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya.
“Aku  tak ingin berpisah darimu” terdengar lirih kalimat itu tetapi jelas aku mendengarnya.
    “Linshi  maafkan aku, aku tak akan bisa menjagamu lagi”
    “Maksud kamu?” tanyaku penasaran.
“Aku…aku akan ke Belanda. Ayah yang meminta aku melanjutkan sekolah di sana” Sidney terdiam. Aku pun hanya menunduk, nafasku serasa berhenti di
kerongkongan. Darahku pun tak mengalir, terasa membeku dan jantungku berhenti berdetak. Hanya air mata yang tak sadar telah menetes. Tubuhku lemas tak berdaya. Sidney dengan lembut menghapus air mataku, tapi bukan itu yang ku mau. Air mata ini akan terus menetes karena kepergianmu. Apa yang aku takutkan selama ini terjadi juga, ayahmu akan terus berusaha untuk memisahkan kita. Entah itu sekarang atau besuk.
Xxx
    Aku langsung berlari ke kamar setelah meletakkan sepedaku. Serasa aku telah diterbangkan keawan dan langsung dijatuhkan ke dasar jurang.
    “Linshi, kamu sudah pulang?” aku tak menjawab pertanyaan Ibu. Aku menyembunyikan mukaku ke dalam bantal, ku tak ingin Ibu mengetahui. Ibu mendekat di sampingku, melihat ke arahku.
    “Linshi, kenapa menangis?” walaupun aku berusaha menutupi tapi akhirnya Ibu tahu. Aku langsung memeluk erat Ibu, belaiannya begitu hangat bagiku dan menenangkan diri ini.
    “Ibu, Sidney akan pindah ke Belanda” kataku seraya terisak. Wajah Ibu sedikit terlihat sedih namun ia tidak begitu kaget.
    “Linshi, dengar Ibu nak. Ibu pernah kan bicara sama kamu kalau kita itu tidak seperti keluarga Sidney. Kita hanya hidup sederhana. Dari dulu ini yang Ibu takutkan, Ayah Sidney tetap akan memisahkan kalian. Bukannya Ibu tidak setuju, Ibu hanya ingin kamu tidak sedih nantinya. Dan kita juga harus tahu diri, nak” Kata Ibu seraya mengusap lembut air mataku. Ibu menatap aku dalam, ia ikut merasakan betapa aku sedih.
    “Linshi, Tuhan telah merencanakan yang terbaik untuk kalian. Jika memang kalian berjodoh, maka dalam keadaan apapun pasti kalian akan bertemu kembali” Ibu mencoba menguatkanku. Dalam keadaan seperti ini, aku memang sangat membutuhkan sosoknya. Ibu yang senantiasa ada di saat aku bahagia, maupun terpuruk. Dia tetap berusaha membuatku tertawa, walaupun candaannya tak begitu lucu. Buaian-buaiannya mampu membuatku tenang. Dan aku pun tertidur pulas di pangkuannya.
Xxx
    Hari ini Minggu aku malas beranjak dari tempat tidur. Bukan karena hari ini libur, melainkan hari ini hari terakhir aku akan melihat Sidney. Entah kapan lagi aku akan melihatnya kembali.
    “Linshi, katanya mau mengantarkan Sidney ke bandara. Kenapa belum siap-siap?” sapa Ibu di balik pintu. Aku hanya terdiam mungkin wajahku sudah sembab, mataku sudah besar-besar. Inginku tak bertemu Sidney jika ini hanya perpisahan. Tapi aku tak ingin mengecewakan Sidney. Mungkin Tuhan ingin menguji kebersamaan kita.
    Aku berjalan keluar kamar, kurasa sudah rapi penampilanku hanya saja mata ini besar-besar sekali.
    “Linshi……”  sapa Ibu dari belakang. Aku menengok ke arahnya. “Yakinlah Tuhan memberikan yang terbaik. Jangan buat Sidney bersedih dengan perpisahan ini” pinta Ibu. Aku hanya mengangguk. Kugayuhlah sepeda, teman setiaku. Jarak rumah dan bandara memang tidak terlalu jauh. Lebih baik pakai sepeda yang tidak kena macet dan yang terpenting tidak keluar uang. Pesan Ibu yang selalu ku ingat, janganlah mennghambur-hamburkan uang. Memang karena keadaan ekonomi memaksa aku dan Ibu harus memperlakukan uang secara hati-hati. Sidney telah menungguku di terminal 2A keberangkatan. Setelah ku parkir sepedaku aku berlari ke dalam mencari-cari terminal 2A. Maklum saja aku baru kali ini masuk bandara. Akhirnya dari kejauhan aku melihat Sidney yang berdiri gusar. Aku berjalan pelan-pelan, tak kuasa aku mendekat.
    “Sidney…”panggilku. Sidney pun menoleh ke arahku dan berlari memelukku. Tak kuasa air mata ini menetes kembali.
    “Sidney, apa yang kamu lakukan?” bentak Ayahnya seraya menarik Sidney dari pelukkanku.
    “Ayah,,, aku sudah mengikuti kemauan Ayah. Jadi kali ini Ayah harus mengerti aku. Hanya saat ini terakhir kali aku bertemu Linshi. Maaf Ayah, bukannya aku ingin kasar dengan Ayah” bentak Sidney. Ayahnya langsung terdiam, dia kembali duduk. Aku masih sesenggukan menangis. Sidney terus berusaha menghibur aku, tetapi kesedihan hati ini tak kan terobati jika kamu tetap pergi. Saat-saat terakhir pun tiba. Tapi genggaman tangan ini tak ingin aku lepaskan.
“Never say Goodbye”kata Sidney seraya berjalan masuk boarding room. Tangannya lama-kelamaan mulai tak tergapai olehku. Dan tangan itu pun lepas dariku, aku tak mampu mempertahankannya.
“Sidney……” teriakku bersamaan dengan tangisku yang pecah. Perasaanku hancur seketika, aku tak bisa membayangkan mungkinkah aku akan bertemu dia kembali. Jika kami berjodoh nantinya mengapa Tuhan harus memisahkan kita dulu, mengapa Tuhan tak menyatukan kita di waktu sekarang, mengapa Tuhan membiarkan kami saling tersakiti.
Air mata ini masih belum mau berhenti. Hari ini menjadi hari yang begitu buruk untukku. Ibu melihatku yang masih berbaring di kamar.
“Linshi, bersedih itu boleh asal jangan terus-menerus. Mana anak Ibu yang bersemangat baja ingin jadi penulis, kuliah di Belanda dan mengajak Ibu jalan-jalan keliling dunia” rayu Ibu. Mendengar kata-kata Ibu aku jadi mendapatkan suntikan energy. Entah mengapa setelah mendengar kata-kata Belanda aku jadi bersemangat. Mungkinkah karena aku ingin bertemu Sidney atau memang karena ini mimpiku. Entahlah.
Aku bangun dan memandang wajah Ibu. Tangan lembutnya mengusap pipiku. Senyuman hangat Ibu menambah semangatku. Aku memeluknya erat dan kami larut dalam perbincangan hangat mengenai mimpi-mimpiku. “Bermimpilah karena Tuhan kan memeluk mimpimu”. Kata-kata itu yang menjadi motivasiku selanjutnya.
xxx
Aku lanjutkan jari-jemariku menari di atas keyboard. Menulis, kegiatan yang menjadi penghapus lara hati ini. Hatiku mulai bimbang kembali, menngapa Sidney tak ada kabar. Sidney hanya memberiku kabar saat setelah sampai di Amsterdam. Setelah itu dia menghilang. Ku kirim email tak ada balasan, sms tak dibalas, pesan facebook, twitter, whatshap dan BBM semuanya tak dibalas.
“Lin,,melamun” kata-kata Ibu mengagetkanku yang diam di depan laptop.
“Mikirin Sidney lagi” tebak Ibu.
“Nggak kok Bu. Cuma mengapa tak ada kabar dari dia”
“Katanya nggak, itu namanya masih mikirin. Ingat pesan Ibu, sekarang fokuslah pada mimpimu dan beasiswa Belanda itu”. Apa yang di katakan Ibu memang benar, aku harus membuktikan pada semuanya bahwa aku bisa.
1 hari, 2 hari, 1 minggu, 2 minggu, 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan entah sampai kapan Sidney tak ada kabar. Seiring jalannya waktu, ingatanku mulai tergantikan oeh segudang aktivitasku. Sebentar lagi novelku selesai dan segera launching. Hadiah yang begitu indah menggantikan kepergian Sidney. “Never Say Goodbye” kata yang pernah terucapkan oleh Sidney. Sampai sekarang aku tak mengerti makna kata itu. Apa gunanya Sidney mengucapkan itu bila tak dapat menepatinya.
Xxx
Hari ini waktu yang aku tunggu. Pengumuman beasiswa itu, aku berharap mendapatkannya mengingat perjuangan ku saat ingin melakukan tes. Waktu itu aku terlambat dan waktu yang tinggal 45 menit, aku memelas untuk tetap dapat mengikuti tes. Aku pantau terus layar laptopku, tak ingin aku tertinggal akan sejarah hidupku. Dan namaku tertera di Univercity of Amsterdam fakultas Sastra. Kabar yang akan membuat Ibu bangga setelah berita novelku yang diminati banyak pembaca.
Keberangkatanku ke Belanda tinggal menghitung jam namun tiket pesawat yang sangat berharga lupa ku simpan di mana. Aku dan Ibu sibuk mengobrak-abrik seisi rumah mencari selembar kertas bernilai itu.
“Ibu, mungkinkah Tuhan tak meridhoi kepergianku” kataku lemas. Ibu hanya terdiam mendengar ucapanku. Sejenak aku terdiam mengingat dimana aku meletakkannya. Kulihat buku biru muda yang aku simpan rapi di bawah meja belajarku, ya diaryku. Ternyata tiket itu aku selipkan disana bersama dengan foto Sidney. Lamunanku kembali melayang dan Ibu hanya diam memperhatikanku.
Pagi hari yang ku tunggu, secerah hatiku. Ibu memang tak bisa menemaniku sampai Belanda namun aku merasa Ibu selalu di sampingku. Perjalanan 14 jam Jakarta – Amsterdam ku lalui sendiri dengan Garuda Airlines. Sesampainya di Amsterdam aku langsung mencari asrama tempat tinggalku.
Pagi pertama di Amsterdam, dan hari ini aku memulai aktivitas pertamaku untuk presentasi mengenai novelku di hadapan mahasiswa lainnya. Pagi ini aku berharap membawa keberuntungan bagiku. Aula telah siap menyambutku dengan pengunjung pun telah memadati arena.
“Please welcome to Linshi Nourah Naryomi” kata pemandu acara saat menyebut namaku. Aku mulai memperkenalkan diriku dan aku kaget saat ku lihat seperti Sidney di barisan penngunjung. Mungkin hanya mirip, toh lama aku tidak melihat wajahnya kemungkinan wajahnya telah berubah. Ku selesaikan tugasku dengan baik dan lancar. Tiba-tiba tanganku di tarik seseorang di depan pintu saat akan keluar.
“Linshi” aku menoleh ke belakang saat mendengar panggilan itu.
“Sidney” kataku pelan. Kami saling menatap seperti pertama bertemu. Dia kemudian mengajakku ke taman. Aku merasa canggung karena lama tak berbicara dengannya.
“Segitu mudahkah kamu melupakan aku. Dan begitu mudahkan kamu meminta maaf. Tak tahu kah aku begitu kehilanganmu” kataku.
“Oke aku minta maaf, aku ingin menebus semuanya”. Mendengar Sidney menjabarkan segala alasan membuatku tak pantas jika aku menghakiminya. Apa yang dia lakukan untuk melindungi hubunganku dengan dia dari Ayahnya yang kasar. Sidney menyodorkan jari kelingkingnya tanda ia berjanji padaku. Aku balas dengan ikatan jari kelingking dan bibir kami sama-sama berucap “Never Say Goodbye”. Tuhan mempertemukan kita kembali dengan skenarioNya

Senin, 01 September 2014

SENIN KAMIS

Setelah keputusan itu aku buat,,aku merasakan kegundahan hati yang begitu berat. Perasaan belum ikhlas masih ada dalam benak ini.Perasaan tidak tenang selalu menghantui,belum lagi kebingungan dalam pendaftaran CPNS.
Ya,Tuhan ada apa denganku.Aku ingin kembali seperti dulu.
Merasakan kedamaian batin,,
Beruntung aku masih bisa mengingat jika keadaan seperti ini apa yang harus aku lakukan.
Masih ada Tuhan bukan yang setia mendengar keluh kesah kita?
Masih ada lantai bukan tempat kita bersujud untuk mengadu?
Yaps,,aku mulai kembali menjalankan puasa senin kamis yang 2 tahun terakhir jarang aku jalankan.

Hati ini serasa damai,,tidak ada pertengkaran batin. Pertanyaan2 ke Allah sedikit demi sedikit mulai terjawab.

Hidup ini menjadi lebih berwarna.
Aku kembali menemukan jati diri yang hilang.

Dekatkan diri pada Tuhan,,semua akan terasa ringan