PERJALANAN CINTA
Handphoneku di atas meja tiba-tiba berdering. Pesan singkat dari Alit ku terima. Katanya akan ada acara traveling dari sekolah. Aku memang penyuka traveling terutama ke daerah pegunungan. Karena aku menyukai kesejukan udara, kehijauan lingkungan dan yang terutama jauh dari keramaian. Aku pun segera membalas pesan singkat tersebut, kami berkumpul di sekolah untuk membahas acara tersebut. Ku rasa pihak sekolah terlalu mendadak mengadakan acara ini.
“Thea, akhirnnya kamu datang juga. Ku pikir kamu tidak ikut “ kata Alit saat bertemu denganku di koridor sekolah.
“Gak lah, aku pasti ikut” kami berjalan bersama menuju meeting room. Ternyata anak-anak telah banyak berkumpul. Lama juga menunggu sang guru datang.
“Siang semua anak-anak” sapa Pak Toro saat masuk kelas. Dan dialah yang akan bertanggung jawab atas acara ini.
“Kalian sudah tahu kan, mengapa kalian berkumpul di sini. Acara ini hanya untuk orang-orang yang benar-benar mau mengikuti dan mau capek. Yang mau ikut segera daftar kepada bapak sekarang” ungkap Pak Toro seraya duduk di kursi guru.
“Thea, lihat Daren ikut lho” bisik Alit saat melihat Daren berjalan menuju meja Pak Toro.
“Biarkan saja” jawabku. Daren merupakan orang yang paling belagu di sekolah sekarang. Tetapi banyak memang yang mengidolakan dia. Dulu aku dan dia memang sempat pacaran tapi karena seseorang, hubungan itu hancur berantakan. Aku dan dia jadi memiliki jarak yang sangat jauh. Setelah hubungan kita kandas, Daren berubah total. Aku pun membencinya sekarang. Sering kami beradu mulut jika berhadapan. Sebenarnya aku masih belum mengerti mengapa dia berubah secepat itu. Bukan sifat dia yang sebenarnya. Jika Alit bertanya padaku apakah aku masih menyayangi Daren, ya aku memang masih menyayangi dia sampai saat ini. Sulit bagiku untuk melupakan dia walaupun dia telah membuat luka bagiku.
Hari yang ditunggu pun tiba, traveling ke Bandung. Bis yang akan membawa kami pun telah terparkir di depan sekolah. Teman-teman mulai masuk ke dalam bis setelah diabsen oleh Pak Toro dan ternyata aku masuk terakhir ke dalam bis. Aku melonggok-longgok mencari Alit, dia telah duduk dengan anak lain. Tinggal bangku yang ada di samping Daren yang kosong.
“Misi Ren, geser dong” pintaku.
“Kamu mau duduk di sini, masuk aja” jawabnya ketus.
“Aku yang disamping aja”
“Gak, kalau gak mau masuk ya udah gak usah duduk di sini”
Aku pun terpaksa masuk, tak mungkin aku berdiri dalam perjalanan jauh Jogja-Bandung ini. Sepanjang perjalanan tak ada kata yang terucap dari bibirku maupun bibirnnya. Kami seperti tak pernah mengenal sama sekali. Kadang kami hanya saling melirik. Aku menengok ke arah Alit dia sedang sibuk dengan gadgetnya, lama-lama aku bosen juga duduk dengan seorang yang seperti patung.
“Ren, kamu gak bisa ngomong ya. Dari tadi diem aja. Betah amat” celotehku.
“Cerewet kamu”
Baru kali ini aku mendengar jawaban Daren yang benar-benar ketus. Dia memang telah berubah. Sebenarnya apa salahku,mengapa dia begitu membenciku.
“Ren,sebenarnya kamu ini kenapa? Apa salahku sama kamu? Kita memang sudah tak ada hubungan tapi jangan musuhan juga kali” omongku.
“Aku kan sudah bilang berkali-kali tidak ada apa-apa” jawabnya. Emang dasar, yang namanya Daren itu selalu bikin meradang. Dibaikkin gak bisa, dikasarin apalagi. Mendengar jawabannya aku langsung diam. Aku ambil handsetku dan mendengarkan MP3. Tak ingin aku mengurusi satu anak ini. Aku anggap dia masa laluku dan pengalaman di hidupku. Suara MP3 ternyata membuat aku tertidur pulas sampai pagi.
Kaget bukan kepalang waktu bangun, aku bersandar di bahu Daren. Mataku langsung melotot kearahnya.
“Kenapa, kaget? Nyaman sekali ya tidurnya”
Aku memandanginya sambil cemberut. Untung bisnya telah sampai di lokasi tujuan. Aku langsung turun, ku tak ingin memperpanjang masalah dengan Daren. Kadang aku tak bisa membunuh perasaanku kepada dia, padahal dia sekarang tak peduli denganku. Setelah semua anak-anak turun, kami dikumpulkan jadi satu ternyata Pak Toro telah merencanakan kegiatan yang tidak kami ketahui. Kami akan berwisata menuju puncak dengan jalan kaki lewat hutan-hutan. Bahkan kami akan bersama dengan anak-anak dari Wonosobo, diharapkan kami dapat saling mengenal dan bersahabat satu sama lain.
Ada seorang yang sangat menarik perhatianku. Dia pun ku rasa juga sering memperhatikanku. Mungkinkan aku kembali jatuh hati? Perjalanan pun dimulai aku berjalan di belakang anak-anak lain, aku ingin menikmati keindahan pegunungan. Sayangnya keindahan Bandung sekarang sangat berbeda, ku rasa Bandung lebih indah dulu. Dulu pembangunan belum seramai sekarang, kita masih bisa mengatakan Bandung kota Parisj Van Java nya Indonesia. Kalau sekarang jika kita mau menganggap Bandung Parisj Van Java mungkin harus berpikir dua kali. Suara seseorang tiba-tiba mengagetkanku dari imajinasiku tentang Bandung.
“Hy,,boleh kenalan gak? Aku Askah “ kata cowok itu sambil menyodorkan tangannya.
“Thea” kataku sambil menerima salam darinya. Perasaanku bercampur menjadi satu. Masih belum percaya kalau dia akhirnya mengenalku. Perasaan ini seperti dulu pertama kali aku mengenal Daren. Aku dan dia bicara panjang lebar, asyik juga ternyata orangnya. Kami bertukar no HP sampai pin BB. Tiba-tiba dia dipanggil teman-temannya yang lain. Hoby photographyku akhirnya keluar. Aku asyik memotret sana-sini, dan tanpa sadar aku kehilangan jejak teman-temanku. Tak ada satupun orang yang terlihat, kemana aku harus berjalan.
“Alit…..Alit….Alit…dimana kamu?” teriakku memanggil-mangil Alit. Kanan-kiriku hanya hutan, aku lihat handphoneku tak ada sinyal. Aku harus bagaimana? Aku berjalan menurut langkah kaki, semakin lama semakin sepi. Air mataku tak dapat dibendung lagi. Aku takut di sini sendirian.
Di Puncak, Pak Toro dan guru pendamping dari Wonosobo mengabsen muridnya.
“Pak, Thea belum sampai” kata Alit gelisah. Yang lain langsung menengok ke arah Alit. Terlihat wajah gelisah dan panik dari Daren. Bagaimanapun juga dulu dia pernah menjadi orang special dalam hidupnya.
“Terakhir dia sama siapa?” tanya Pak Toro.
“Sama saya Pak, terus tadi saya dipanggil teman jadi dia dibelakangku” kata Askah. Daren langsung berjalan ke arah Askah dan menarik kerah bajunya.
“Kamu tahu dia itu cewek dan belum pernah ke sini. Kenapa kamu tinggal, kamu cowok atau bukan” kata Daren naik pitam.
“Sudah Daren, jangan bertengkar sekarang waktunya mencari Thea” lerai Pak Toro.
“Kalau terjadi sesuatu dengan Thea, habis kamu” ancam Daren seraya pergi mencari Thea. Mereka berteriak-teriak menyebut nama Thea. Thea menangis ketakutan di bawah pohon, ia hanya memejamkan matanya tak berani melihat di sekelilingnya. Dia belum pernah ditinggal sendiri di tempat sepi apalagi hutan. Daren samar-samar mendengar tangisan Thea, ia memastikan sumber dari tangisan tersebut.
“Thea…” panggil Daren.
“Daren” Thea langsung berlari ke arah Daren dan memeluknya. Dalam hening Thea belum sadar siapa yang dipeluknya, namun tiba-tiba ia melepasnya.
“Sory,,aku tak bermaksud” kata-kata Thea langsung di putus Daren.
“Tidak apa-apa. Kamu tidak apa-apa kan? Ada yang luka?”
Aku masih heran, wajahku masih bengong. Daren bisa sekhawatir ini, mungkin kah ini dia? Daren pun langsung menarik tanganku mengajak berjalan menuju puncak. Yang lain pasti juga khawatir kalau kami tak segera kembali. Dalam perjalanan menuju puncak, sesekali aku bertanya pada Daren. Dan dia telah berubah kembali, dia hanya akan bicara jika ditanya itu pun jawabannya singkat, padat dan jelas. Saat sampai di lokasi semua orang langsung berkerumun ke arahku.
“Thea kamu tidak apa-apa” tanya Alit. Aku hanya menganggukkan kepala. Aku melihat Askah, dia seperti cemburu saat aku kembali bersama Daren. Mungkinkah Askah telah jatuh hati padaku.Acara selanjutnya Barbeque party telah di mulai, aku duduk bersama Alit sedangkan yang lain asyik membuat makanan sesekali terdengar gelak tawa dari mereka. Alit asyik menceritakan mengenai sikap Daren tadi sore yang begitu khawatir. Dalam hati kecilku aku yakin kalau sebenarnya Daren masih menyayangiku. Entah masalah apa yang membuat dia seperti itu. Aku tak ingin terlalu berharap untuk kembali kepada Daren. Biarkan dia hidup dengan kehidupannya yang sekarang jika itu membuatnya bahagia.
“Thea”panggil seseorang dari belakang. Aku dan Alit pun bersamaan menengok ke belakang. Alit pun langsung berpamitan pergi meninggalkan aku dan Askah.
“Kamu” dia langsung duduk di sampingku. Awalnya kami hanya saling diam, tak ada kata yang terucap. Lama-kelamaan kami mulai saling mengisi kadang candaan keluar dari mulut kita. Kami sudah seperti lama mengenal padahal baru kemarin. Aku menangkap sifatnya yang penyayang, melindungi, menghargai, perhatian dan dia sopan. Aku banyak belajar dari dia. Hatiku mulai mengangis ketika dia membahas kalau besuk pagi kita akan pulang ke tempat masing-masing, aku ke Jogja dan dia ke Wonosobo. Aku baru sadar kalau sekarang itu hari terakhir kita bersama. Aku masih ingin bersamanya, melihat senyuman kebahagiaan di wajahnya. Malam ini aku tak bisa tidur, aku pandangi bintang dan rembulan di langit. Bintang dan rembulan pun ku rasa ikut bersedih melihatku bersedih. Setiap pertemuan memang ada perpisahan, tetapi mengapa harus sekarang. Tuhan memang tahu yang lebih baik, dengan kata-kata itu setidaknya bisa mengurangi kesedihanku sekarang ini.
Pagi ini kami mulai berkemas-kemas. Bis telah menunggu kami di depan penginapan. Rombonganku dan rombongan Askah memang pulang bersamaan. Sebelumnya kami berfoto-foto untuk dijadikan kenangan, bahwa kita semua pernah bersama-sama. Bis mulai berjalan beriringan, saat itu aku masih bisa tenang karena kami belum berpisah. Aku masih bisa melihat bisnya berjalan di depanku. Kami pun masih sempat makan siang bersama di sebuah restaurant. Setelah makan siang Askah dan teman-temannya mulai berpamitan katanya setelah ini bis kita akan berjalan masing-masing. Bisku akan lewat jalur utara dan bis Askah akan lewat jalur selatan. Hatiku mulai sedih, aku tak bisa membayangkan waktu ini adalah kali terakhir melihatnya. Entah kapan lagi kita akan dipertemukan.
Tuhan memang tahu apa yang ku mau, kita belum terpisahkan. Jalanan yang macet dan teriknya mentari membuat aku tak bisa tidur. Aku sibuk mendengarkan MP3. Saat kulihat jam tanganku waktu sudah masuk jam 18.00, aku sempat berpikir mungkinkah kedua bis ini akan sama-sama terus. Tetapi itu tak mungkin. Kami berhenti di sebuah pom bensin untuk melaksanakan sholat maghrib terlebih dulu. Selesai sholat Askah kembali berpamitan kepadaku. Hatiku tak mempercayai perkataannya, nyatanya tadi selesai makan siang kita tak berpisah. Aku masih berpikir positif saja.
Saat sampai di tol Cirebon, bis Askah melaju lurus sedangkan aku berbelok ke utara. Disinilah aku mulai menangis, wajahku aku tutup dengan jaket. Askah langsung mengirim pesan singkat kepadaku “Kebersamaan kita sampai di sini. Semoga kelak kita dipertemukan kembali. Jaga diri baik-baik. Hati-hati di jalan ya” pesan ini semakin membuat hatikku pilu. Aku berusaha tegar tapi tak bisa.
“Thea kamu menangis” tanya Alit.
“Nggak kok” aku berusaha menutupi dari Alit. Aku tak ingin dia tahu.
Kerinduanku pada Askah hanya bisa disalurkan lewat sms dan telepon. Aku ingin ke Wonosobo, tapi orang tuaku tak kan memperbolehkan. Askah pun ingin sekali bertemu denganku. Sampai pada waktu sebelum lebaran, ketika paman dan neneknya minta diantarkan ke Jogja untuk menjemput sepupunya. Ia langsung memberi kabar ke aku, betapa gembiranya aku. Akhirnya Tuhan mendengarkan doa-doaku. Kami pun berjanji bertemu di Malioboro, kota keramaian Jogja.
Waktu yang ditunggu pun tiba, aku menunggu di taman Malioboro. Di wajahku terpancar kerinduan, ingin segera aku melepasnya.
“Thea” sapa seseorang.
“Askah….”panggilku. Tak disangka akhirnya kami dipertemukan kembali. Aku masih belum percaya bahwa Askah di sampingku. Kami saling berbagi cerita di sini.
“Thea, boleh aku bertanya”kata Askah yang ku jawab dengan anggukan kepala.
“Ketika siang bumi membutuhkan mentari untuk meneranginya, ketika malam bumi membutuhkan rembulan untuk meneranginya juga. Maukah kamu menjadi mentari dan rembulan yang selalu menerangi hatiku di siang dan malam hari?” tanya Askah lembut.
Aku terdiam sejenak, hatiku berbunga-bunga. Tapi aku malu untuk menjawabnya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum,Askah langsung tertawa lepas dan memelukku. Aku merasakan sebagai orang yang paling bahagia saat ini.Walaupun jarak akan memisahkan kita kembali tapi aku yakin bunga-bunga cinta itu akan selalu mekar di hatiku maupun hati Askah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar